001-234-567-8910

5th Avenue Madson, NY758, USA

Get Update on our recent Gadgets & Tabs

Kamis, 17 Mei 2012

Tukang Sampah dan Anak-anak Koran: Pilihan Jalan



Berguru pada Tukang Sampah
Pahlawan tanpa tanda jasa itu bernama tukang sampah! Barangkali kalimat itulah yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi objektif tukang sampah yang telah berjasa merawat lingkungan sekitar kita. Bayangkan, betapa ruwetnya hidup ini jika tak ada satu orang pun yang ikhlas menjadi seperti mereka. Lalat berkerumun di depan rumah, sisa-sisa makanan dan plastik berserakan di mana-mana, bau busuk menyengat hidung membuat perut jadi mual, dan segala bentuk ketidaknyamanan lainnya.

Tak ada yang berani menjadi pahlawan sampah kecuali mereka yang memiliki jiwa yang kuat dan nurani yang bersih. Jiwa mereka terlanjur kuat untuk mengenyahkan bisikan-bisikan setan yang selalu meledek bahwa menjadi tukang sampah adalah hina, profesi rendahan, manusia kotor, sekotor sampah itu. Nurani mereka terlanjur bersih untuk sekedar mengumpat-umpat dan mendiamkan tumpukan kotoran menjelama kebusukan.

Pun juga tak pernah terlintas di benak mereka, apalagi membayangkan dirinya menjadi tukang sampah, yang berjalan dari rumah ke rumah, dari gang ke gang, hanya demi memunguti barang buangan (sampah) orang lain. Ketika semua orang membenci dan menghindari bau busuk atau lalat yang kadang membawa laknat, pahlawan sampah ini malah dipaksa mengakrabinya dari hari ke hari, dengan resiko yang berat; terkena penyakit tentulah amat tinggi, selain gangguan pernapasan, penyakit kulit bisa jadi menjadi ancaman yang selalu mengintip mereka.

Parahnya, pahlawan kita ini jarang sekali, bahkan nyaris dikatakan tidak ada yang mengenakan perlengkapan yang seharusnya, seperti masker, kaus tangan, sepatu boot, bahkan jaket panjang. Dan yang tak jarang, pahlawan yang hampir tak pernah dilirik dan dihiraukan orang ini berpenghasilan minim dan perkerjaannya dinilai hina oleh sebagian besar masyarakat! Jangankan untuk berperalatan lengkap denga masker, kaus tangan dan segala tetek bengeknya, berpikir pun barangkali tak pernah! Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah sepotong mimpi, bahwa esok pagi anak dan istri mereka merengek minta sesuap nasi.

* * * * *

Pukul 2.00 dini hari. Jalan Jemur Wonosari mulai senyap. Hanya satu dua motor yang kebetulan melintas. Rona fajar sepertinya belum merekah. Bau busuk tiba-tiba menyengat dari luar SMART NET, tempat saya bekerja sebagai operator warnet. Rutinitas yang hampir terjadi tiap malam. Bila bau menusuk mulai tercium, berarti sang Pahlawan talah datang, karena setelah mengangkut "barang-barangnya", ia biasanya akan membiarkan tutup tong sampah terbuka. Dan tanpa disuruh, saya pun langsung berjalan ke depan warnet menuju tong sampah, lalu menutupnya kembali.

Begitulah yang terjadi hampir tiap malam, di saat kebanyakan orang terlelap dalam tidurnya, Pahlawan kita terus menyusuri lorong demi lorong, dari satu tong sampah ke tong sampah yang lain, dengan gerobak tuanya yang tetap setia menemani. Ia terus berjalan, tanpa menolah ke belakang. Rasanya ia ingin begitu cepat meninggalkan setiap orang yang ditemuinya, tanpa sepatah kata pun. Ia sepertinya memang pahlawan sunyi. Sesunyi ikhlas-baktinya pada masyarakat.

Setiap kali keluar menutup tong sampah, saya hanya bisa melihat punggunya yang begitu tabah. Dalam pandanganku yang nanar, ia masih terlihat santun tanpa kepongahan setitik pun, dan tentu tanpa dasi selayaknya para pejabat di istana negara, yang kadang justru dijuluki sampah negara! Ya, dia tetaplah lelaki tua dengan kesahajaan yang tak pernah ia paksakan. Dalam hati saya seringkali berucap:"Sungguh, kau dalah guru terbaik kehidupanku, wahai pahlawan tanpa tanda jasa...."

Anak-anak Koran itu Hidup di Jalanan
Ilustrasi di atas mungkin hanyalah sepersekian kecil dari prosentase narasi absurditas hidup yang kian membingungkan. Di saat para elit penguasa sibuk menumpuk harta benda, di saat para selebriti tenggelam dengan dunia glamournya, pahlawan sampah yang tergolong miskin papa itu malah setia menjalani hidup “apa adanya, dipaksa meyakini bahwa kemiskinan adalah murni kreasi Tuhan, bukan manipulasi struktur penguasa yang sengaja dimapankan.  Logika manakah yang lebih membingungkan dari fenomena di atas?

Di lain waktu, saya kerap menjumpai slide-slide kehidupan yang sarat ironi, lebih menusuk-nusuk nurani. Kisah ketidak adilan yang bahkan tiap hari kita tonton di jalan-jalan. Saya menyebut ironi hidup ini dengan “Parodi Anak-anak Koran”. Saya sengaja menyebutnya anak-anak koran, bukan karena mereka adalah para wartawan atau kuli tinta, tetapi lantaran "profesi" mereka memang penjaja koran, dari bis ke bis, dari halte ke halte, meski barangkali mereka belum paham benar apa yang ia tawarkan. Bahkan mungkin ada yang belum mampu membacanya. Berpikir untuk sekolah pun barangkali terlampau jauh...

Bagi mereka, sekolah barangkali hanyalah mitologi yang didengar dari telinga ke telinga, dari dongeng-dongeng pengantar tidur. Bagitu gencarnya pemerintah mempromosikan iklan pendidikan gratis dan kampanye pengentasan kemiskinan. Tapi realitas memang selalu berkata jujur. Agenda dengan anggaran besar itu hanyalah kamuflase dan sebentuk formalisme yang kering makna, tidak pernah menyentuh sisi paling essensial nurani kaum miskin bangsa ini.

Begitulah, dunia kosmopolitanisme telah memaksa anak sekecil mereka untuk tetap bertahan hidup dan survive dalam kondisi yang memprihatinkan. Takdir telah menempa mereka menjadi masyarakat urban yang miskin papa. Maka sungguh tragis ketika di samping gubuk-gubuk kumuh mereka, malah berdiri hutan-hutan beton, gedung-gedung yang menjulang ke langit. Hampir tiap hari, masyarakat borjuis mempertontonkan aksesori mereka dengan sedikit pongah, bahkan ketika para anak-anak jalanan memperebutkan sesuap nasi dengan menggadaikan harga diri, mereka para anak-anak konglomerat dan makhluk-makhluk hedonis malah berdesak-desakan, berlomba-lomba mendapatkan HP keluaran terbaru dari
pasar murah atau bazar. Sungguh satu pemandangan yang memiriskan nurani...

Barangkali benar apa yang pernah dipertanyakan Joseph Stiglitzt dalam bukunya Globalization and It's Discontent, bagaimana negara seperti Indonesia yang di kota-kotanya orang menjubeli mall setiap hari, dan jalananya macet oleh mobil terbaru keluaran Eropa, bisa disebut sebagai negara miskin. Huh...

* * *

Kisah anak-anak koran di atas sengaja saya bidik ketika tanpa sengaja, di bundaran sebelum hotel Somerset
Jl. Kupang Indah, Surabaya, saya melihat kedua anak penjaja koran sedang berteduh di trotoar. Kala itu saya sedang dalam perjalanan menuju rumah teman saya di Lamongan. Siang begitu terik. Lampu traffic light masih tepat di titik merah. Dengan sigap, saya ambil HP dalam saku celana. Jebret! Bidikan tepat sasaran. Sebuah momen yang sangat "sakral" untuk diabadikan, bahkan kalau perlu dimuseumkan...

Maka, ketika beberapa minggu kemudia sepulang dari Malang, saya kembali bertemu dengan anak-anak koran ini, memori saya tiba-tiba berputar, mengingat suatu dimensi waktu yang sempat terekam jelas dalam benak. Apalagi hampir secara bergiliran, di dalam bis yang saya tumpangi, para pengamen jalanan dengan suaranya yang serak-serak kering menghunjam tepat di ulu hati. Lalu diganti dengan suara pengamen wanita setengah baya dengan membawa pengeras suara layaknya sedang ikut lomba karaoke. Ah, selalu ada cara untuk protes terhadap makna keadilan, meski dengan harga diri tergadaikan. Dan anak-anak dan perempuan ini sedang melakukannya...

Masih terekam jelas bagimana Ibu saya mengumpulkan uang recehan ketika sedang bepergian jauh. Waktu itu tepat tahun 2003. Keluarga saya hendak bepergian ke Banyuwangi, rumah kerabat di Rogojampi. Awalnya saya kurang mengerti mengapa Ibu menukar uang puluhan ribu dengan uang receh, jauh-jauh hari sebelum pemberangkatan. "Kalau tidak bawa uang receh, kasihan anak-anak pengamen nanti. Pertama ke Banyuwangi dulu, saya tidak bersedia uang kecil. Jadi kerepotan kalau ada pengamen..." Terang Ibu ketika saya tanya alasannya. Kelak saya baru paham, bahwa Ibu sedang mengajari saya bagaimana bisa berbagi dengan sesama, meski kondisi juga pas-pasan.

Maka saya membayangkan, anak-anak koran dan pengamen jalanan itu hanya mampu tertegun melihat teman sebayanya asyik belajar di bangku sekolah. "Betapa nikmatnya ya bisa sekolah seperti anak-anak itu, di balik pagar tinggi itu ya...? Betapa enaknya ya bisa bermain seperti mereka, berlarian kesana-kemari, naik turun tangga, ketawa-ketawa penuh girang? Kalau lapar, tinggal jajan di kantin sekolah atau buka bekal dari mama...?" Begitu mungkin suara-suara batin mereka, meski tak pernah terdengar, sebagai mana digambarkan dengan miris dalam novel Miskin kok Mau Sekolah? Sekolah dari Hongkong!!- nya Wiwid Prasteyo.

Ya, pemandangan seperti itu memang seperti menu sosial kita sehari-hari. Sebuah parodi ketidak adilan yang nyaris menghimpit seluruh kesadaran kita sebagai bangsa yang katanya memiliki hati nurani. Barangkali ada letupan-letupan nyinyir yang mengatakan bahwa mereka, kaum miskin yang hidup di jalanan adalah sampah masyarakat; bahwa sekali kita menyuguhkan sekeping uang receh pada mereka, sejatinya kita telah menyumbangkan satu paket kemalasan pada jiwa mereka. Lebih baik kita "pura-pura kikir", agar mereka tahu bahwa mencari uang itu sulit. Begitulah mungkin argumen para penumpang yang enggan menyisikan sedikit hartanya untuk mereka. Saya hanya sempat berpikir, statemen itu muncul dari mereka yang belum pernah merasa kesulitan, meski hanya untuk mencarai sesuap nasi sebagai pengganjal perut yang kelaparan. Entahlah.

Apapaun penilaian masyarakat terhadap mereka, nun, ia tetaplah bocah mungil nan lugu yang miskin, kere luntung, yang hanya kuasa meraba erat-erat pintu pagar yang tinggi, angkuh, dan dingin di sekolah itu. Badan dan pakaiannya tetaplah kumal, lecek, sangat dekil, sebab emak dan bapaknya tak pernah mampu membelikan parfum wangi dan pakaian necis mentereng, tidak seperti mama dan papa anak-anak kaya itu.

Memaknai Hidup; Sebuah Epilog
Rasanya, seperti baru kemarin pagi saya berangkat kuliah ke Surabaya, meninggalkan tanah kelahiran untuk sebuah harapan. Waktu terasa begitu cepat, bagai anak panah yang melompat dan pergi entah kemana. Ingin rasanya saya berteriak menghentikan laju waktu, lalu sejenak bercengkerama dengan letih yang tertatih. Tapi sungguh, teriakan ini begitu kosong dan hanya bergema di ruang hampa kedap suara.

Maka saya hanya mampu berdoa, semoga hari ini lebih baik dari hari-hari kemarin. Meski Albert Einstein pernah berkata bahwa masa lalu dan masa depan adalah ilusi pikiran kita semata, tapi saya percaya, sangat yakin malah, bahwa waktu akan menjadi sahabat terbaik, jawaban paling jujur di saat kita sedang terluka, terlunta di bentangan usia. Hanya harapanlah yang mampu membuat kita tetap setia menjalani hidup di saat-saat masa terus berjalan menuju senja.

Ah, ternyata sudah hamper enam tahun saya hidup di Surabaya. Betapa saya masih ingat masa-masa awal kuliah dulu, sebagai lelaki lugu di belantara metropolitan yang tak tahu arah dan hanya bermodal pasrah. Lelaki yang terkagum-kagum, terheran-heran menyaksikan tiang-tiang pencakar langit dipancangkan. Lampu-lampu bersinar amat terang, hutan-hutan beton terus bertumbuhan.

Hampir tiap pagi, saya selalu memandang jalan yang tak pernah lengang di depan kampus. Betapa hebatnya orang-orang itu, tiap hari bepergian dan disibukkan dengan pekerjaan. Suara-suara motor meraung-raung di terik siang. Suara-suara kenek angkot dan bus kota mengerang mencari penumpang. Di terminal-terminal, para calo berseliweran dan para pencopet selalu sigap mencari jajahan. Anak-anak koran dan pengamen jalanan juga tak ketinggalan.

Dari atas tol saya menyaksikan atap-atap rumah penduduk yang berdesakan, dengan genting-genting rumahnya yang tua. Jemuran silang-sengkarut. Di sampingnya mengalir keruh sungai kecil beirisi sampah dan comberan, dengan sederetan tukang becak yang mengiba di terik siang demi menunggu penumpang. Di perumahan-perumahan elit saya melihat para satpam menjaga rumah tuannya, ditemani anjing dan dikelilingi pagar besi, menjaga diri dari mati dan para pencuri. Ah, betapa hidup makin sarat absurditas dan kompleksitas yang sulit dipahami.

Sulit benar menghitung berapa jumlah manula yang menjadi pengemis, mengumpulkan uang receh dari orang-orang yang berlalu lalang di stasiun-stasiun. Sesulit mencari orang yang peduli dan mau membayangkan bagaimana orang-orang tua itu mempertahankan rasa nyamannya. Di stasiun-stasiun itu, saya sering menyaksikan perempuan tua, bahkan nenek renta. Dari yang masih berdaya dan memilih keringat sebagai penopang hidup, dengan menjual kacang rebus, sampai mereka yang tak lagi memedulikan apapun kecuali rasa lapar yang melilit. Mungkin, sebagian dari mereka berpikir lebih baik mengemis daripada tidak berbuat apa-apa. Tidak penting lagi bagi mereka spekulasi harga diri!

Sayangnya, tidak semua orang merasa harus berhenti sejenak dan berpikir tentang mereka. Termasuk mungkin juga kita. Kita seolah sedang sibuk dan digegas oleh urusan masing-masing. Tak ada waktu untuk sekedar berpikir, dimana rumah nenek renta penjual kacang rebus itu. Berapa jumlah rupiah yang bisa ia dapatkan dalam sehari. Pun juga mungkin tak pernah terlintaskan dalam benak kita, kemana anak-anak si embah itu?  

Begitulah sepotong kisah kecil dari tukang sampah, anak-anak koran, dan nenek renta penjual kacang. Saya hanya mempu menuliskan riwayat mereka yang tercecer di belantara megapolitanisme yang pongah. Ada banyak kebingungan yang tiba-tiba menyeruap dan menghunjam nurai. Pada titik inilah saya kerap bertanya: apa yang sesungguhnya kita cari dalam hidup ini? []

Surabaya, 18 Mei 2012
(Dianggit kembali dari beberapa catatan yang lama terangkum di blog masa lalu. :-D)

5 komentar:
Write komentar
  1. subhanallah, keren banget deskripsinya! saya sering ngeliat kondisi seperti itu di bekasi kota. mungkin kondisinya sama miris dengan tambahan punkers yang berlenggang diantara puluhan mobil yang berhenti.

    dengan tulisan ini, saya jadi sadar. remaja ataupun orang dewasa yang sibuk dengan dunianya sendiri kadang mati rasa nuraninya. termasuk mempedulikan negara perang Palestina. Tulisan yang bagus! dan mengkritik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, itu hanya gambaran kecil atas realitas yang timpang di negeri ini, dek. Selama enam tahun di Surabaya, kondisi miris itu sudah biasa, dan seolah tidak ada apa-apa. Semoga kita jadi manusia yang masih punya nurani. Amin...

      Gimana kabarnya Bekasi, dek? Hehe..

      Hapus
    2. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

      KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل


      KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل


      Hapus
  2. Mari bergabung bersama ASIANBET77.COM Disini kami menyediakan berbagai macam jenis permainan betting online, seperti Taruhan Bola Online, Casino Online, Togel Online, Sabung Ayam Online dan masih banyak lagi game taruhan online lainnya....

    Pendaftaran gratis tidak dikenakan biaya apapun juga, minimal Deposit sangat ringan, hanya dengan Rp 100.000 saja anda sudah bisa bergabung bersama kami. ASIANBET77.COM bekerja sama dengan bank lokal yakni BCA, MANDIRI & BNI. Sehingga memudahkan anda untuk bertransaksi bersama kami.

    Customer service kami yang Ramah dan Profesional akan siap membantu anda selama 24 jam full, ayo segera daftarkan diri anda bersama kami ASIANBET77.COM. Dan dapatkan promo2 menarik dari kami.untuk keterangan lebih lanjut silahkan hubungi CS kami :

    YM : op1_asianbet77@yahoo.com
    Wechat : asianbet_77
    sms center : +639052137234
    pin bb : 2B4BB06A

    BalasHapus
  3. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل


    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    BalasHapus

Makasih Komennya ya....

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - https://t.co/quGl87I2PZ
Join Our Newsletter