Ads

Ads

Selasa, 07 Februari 2012

Merengkuh Esensi Haflah Maulid Nabi Saw.*)

By Bahauddin Amyasi  |  15.14 No comments


Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tidak berlebihan barangkali ketika Michael H. Hart (1978) menempatkan sosok Muhammad saw. pada urutan pertama dalam bukunya Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah. Penokohan ini tentunya tidak asal copot tanpa telaah mendalam, melainkan dengan melalui proses analisa historis yang komprehensif dan tentu objektif. Bagaimana mungkin seorang Muhammad yang hidup yatim piatu, berasal dari kelaurga miskin dan seorang pengembala domba, mampu menguasai lebih dari separuh dunia. Ajarannya bahkan masih bergema dan kokoh di setiap jiwa umatnya sampai sekarang. Ini tentu sebuah prestasi sejarah yang tak ada tandingannya.

Perjalanan sejarah manusia mengajarkan betapa banyak tokoh hebat yang kelahirannya mampu menjadi titik balik satu perubahan peradaban dalam tatanan masyarakat tertentu. Tokoh itu lalu diidolakan, karena dalam ranah sosiologis, kehadiran sosok idola akan menjadi élan vital dari identitas paling sejati seseorang. Dalam konteks demikian, Rasulullah telah mampu menjadi Super Idol yang menjadi figur dan miniatur dari idealisme serta pengentalan jalan hidup yang dihayati. Bagaimana pun, tanpa upaya pengidolaan, sistem keyakinan akan kehilangan kiblatnya yang monumental.

Tradisi Maulid; Antara Ritual dan Keteladanan
Dalam diskursus antropologi, manusia sering disebut sebagai homo festivus (Komaruddin Hidayat: 2003), yaitu makhluk yang senang mengadakan festival. Sejak zaman purba sampai modern agenda untuk mengadakan festival tidak pernah pudar. Sebuah pesta budaya yang bersifat publik, yang bahkan sering dikaitkan dengan ritus-ritus keagamaan. Lebih jauh lagi, acara ini biasanya dikaitkan dengan misi keagamaan, yaitu mengenang dan memelihara traditional wisdom, lalu diperkaya dengan elemen-elemen mutakhir. Festival semakin gegap gempita ketika dilakukan secara massif dan menjadi simbol harga diri sebuah bangsa dan agama.

Maka tidak heran jika hampir setiap agama secara fanatik dan ekstravagan mengadakan serangkaian festival setiap tahunnya baik yang berkaitan dengan politik mau pun agama. Sejalan dengan hal itu, dalam tradisi Islam, ada budaya perayaan maulid Nabi; sebuah event yang dimanfaatkan untuk "menghidupkan" idola lewat pembacaan kembali lembaran-lembaran sejarah Nabi Muhammad. Dalam dunia Islam, Nabi Muhammad sejatinya adalah super idol bagi setiap generasi Islam sepanjang zaman. Sayangnya, dalam proses gesekan budaya dan rentang waktu yang panjang, keidolaan Nabi terkadang tereduksi menjadi tokoh non empirik.
Secara doktrinal, tradisi maulid memang debatable dalam wilayah benar-tidaknya; sunnah-bid'ahnya. Ini tidak lain karena proses interpretasi terhadap teks-teks keagamaan, tak terkecuali Islam, selalu menghadirkan subyektifitas-individual sang penafsir yang pada gilirannya juga memunculkan pluralitas produk penafsirannya.

Tentu hal ini bukan wacana baru dalam tradisi kegamaan mana pun. Perdebatan yang sebenarnya hanya pada level kulit; bentuk dan cara, bukan pada esensi "spiritualitas sejarah" dan "pengahadiran ulang ketokohan" yang diupayakan lewat tradisi tersebut, dengan demikan, sejatinya tidak perlu untuk diperumit panjang lebar, apalagi sampai ada upaya pengkafiran. Dengan logika yang sangat sederhana, kita bisa mengatakan bahwa merayakan maulid Nabi berarti berusaha menghadirkan kembali sosok ketokohan beliau dan memperpendek rentang waktu yang ada.

Telaah Maulid Nabi Perspektif Historis
Sebagai sebuah seremonial, peringatan Maulid Nabi memang baru dilakukan pada pertengahan abad ke-6 Hijriah. Tradisi ini dimulai di Mosul oleh Syaikh Umar bin Muhammad al-Mala, kemudian dikembangkan oleh Muzhaffar al-Din bin Zaynuddin (549-630), penguasa Irbil. Tapi, esensi maulid sebagai penghadiran tokoh sejarah secara praktis sudah sangat mengakar sejak generasi pertama umat Islam. Para shahabat adalah orang-orang yang paling "gemar" menghadirkan sejarah Rasulullah dalam ruang kehidupan mereka, mulai dari urusan rumah tangga sampai masalah politik dan militer.

Kehadiran sejarah Rasulullah menjadi inspirasi paling purna bagi seorang muslim dalam menjalani realitas hidupnya. Shalah al-Din al-Ayyubi, panglima agung muslimin dan teman perjuangan Muzhaffar dalam Perang Salib, menggunakan tradisi pembacaan sejarah Nabi sebagai strategi untuk menggedor motivasi pasukannya. Ada sisi-sisi historisitas Nabi yang memberikan gambaran utuh sebuah jiwa heroik dan ksatria. Maka, al-Ayyubi meletakkan Rasulullah sebagai idola militer tentara melalui tradisi pembacaan sejarahnya.

Upaya al-Ayyubi telah membangkitkan jiwa heroisme kaum muslimin vis a vis Pasukan Salib dalam bentuknya paling urgen. Dan, itu mutlak diperlukan sebagai urat nadi dari sebuah perlawanan dan perjuangan. Al-Ayyubi memenangkan Perang Salib, mengusir mereka dari Al-Quds dan daerah-daerah muslimin yang lain,  salah satunya, mungkin berkat pengidolaan sejarah dan motivasi historik yang terus ditanamkan dalam ruang pikiran, jiwa dan pandangan hidup mereka. (Republika, Jumat, 06 Maret 2009)

Deskripsi di atas menunjukkan betapa sejarah dibaca memang untuk melahirkan kembali tokoh di masa lampau. Ini menjadi salah satu elemen filosofis dari displin sejarah itu sendiri. Dalam tradisi maulid kita, hal itu sangat kental. Bahkan, tidak hanya melahirkan tapi juga menyegarkan kembali bahwa hanya ada satu tokoh kunci dan super idol dalam keyakinan kita, yakni Nabi Muhammad saw.

Menciptakan idola dari tokoh sejarah adalah hal yang cukup sulit, kalau tidak dikatakan hampir utopis. Hal ini terjadi karena tokoh sejarah hanya digambarkan dalam bentuk cerita-cerita dan tidak bersentuhan secara empirik dengan realitas yang sedang kita alami. Gambaran dalam sejarah tidak sekongkrit ketika seseorang secara langsung bertemu atau merasakan sendiri bagaimana sepak terjang tokoh itu. Diperlukan penciptaan momen yang tepat agar sejarahnya hadir, menyentuh dan meninggalkan pengaruh semi-empirik terhadap jiwa seseorang.

Di sinilah, peringatan sejarah secara serentak seperti Maulid Nabi menemukan urgensi-relevansinya yang paling substansial. Seseorang lebih mudah mencintai ayah, ibu, saudara atau temannya daripada mencintai Rasulullah, karena ada interaksi langsung dengan mereka. Lebih mudah mengidolakan tokoh yang berada di sekeliling kita daripada mengidolakan tokoh sejarah seperti Rasulullah saw. Kita bisa bersentuhan langsung dengan kiprah dan kepribadian orang-orang yang berada di sekeliling kita. Mereka lebih mudah mengisi ruang pikiran dalam hidup kita daripada tokoh sejarah.

Maka, di tengah kondisi krisis keteladanan yang terjadi dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sekarang, potret idealitas kehidupan Rasulullah memang patut dibumikan. Dengan demikian, tradisi Maulid Nabi yang dalam dunia kita terus diperingati setiap tanggal kelahiran beliau bukan lagi sebuah kesemarakan seremonial, tapi sebuah momen spiritual untuk mentahbiskan beliau sebagai figur tunggal yang mengisi pikiran, hati dan pandangan hidup kita. Dalam maulid kita tidak sedang merayakan sebuah festival, tapi perenungan dan charging batin agar tokoh sejarah tidak menjadi fiktif dalam diri kita, tapi betul-betul secara riil tertanam, mengakar, menggerakkan detak-detak jantung dan aliran darah kita.

Akhirnya, jika al-Ayyubi menghadirkan Nabi Muhammad di medan perang, maka kita mesti menghadirkan beliau dalam ruang-ruang hidup yang lain. Tidak hanya dalam bentuk cerita-cerita yang mengagumkan, tapi juga semangat keteladanan dalam menjalani realitas kehidupan. Singkatnya, peringatan Maulid Nabi tidak berhenti pada hiruk-pikuk kegiatan seremonial-formal belaka, namun harus ada upaya untuk menggali kembali sisi spiritual peristiwa tersebut untuk selanjutnya dimaknai secara kontekstual. Yaitu meng-up date kembali pemahaman kita tentang Rasulullah, dan bagaimana kita meneladani sifat-sifat terpujinya serta mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga.


*) Pernah dimuat di Majalah DASA Surabaya

Author: Bahauddin Amyasi

Blogger pengidap insomnia ini lahir di ujung timur pulau Madura. Hobbi ngeblog sejak masih aktif di bangku kuliah. Sebagian temannya mengatakan ia cuek, tapi sesungguhnya ia sangat familiar dan asyik jika sudah akrab.

0 komentar:

Makasih Komennya ya....

E-mail Newsletter

Sign up now to receive breaking news and to hear what's new with us.

Recent Articles

© 2014 Syahwat Virtual™. WP themonic converted by Bloggertheme9. Powered by Blogger.
TOP