001-234-567-8910

5th Avenue Madson, NY758, USA

Get Update on our recent Gadgets & Tabs

Sabtu, 04 Desember 2010

Euforia Haji Berkali-kali


SyahwatVirtual - Musim haji, bagi saya, selalu memberikan nuansa dan makna yang beda, terutama bila ditilik dari perspektif antropologi sosial. Ada banyak euforia yang menyeruak, mulai dari syukuran haji, huru-hara konvoi haji, dan yang lebih menarik tentu pada pelaksanaan haji itu sendiri, yakni haji berkali-kali. Fenomena yang terakhir ini -- oleh sebagian pemerhati kajian sosial keagamaan, seringkali dijadikan barometer untuk membaca peta kecenderungan masyarakat muslim Indonesia dalam menghayati ritual agamanya.

Di mata masayarakat, haji memang merupakan ibadah yang istimewa, karena selain membutuhkan kekuatan fisik, ia juga mensyaratkan kemampuan logistik. Al-Qur'an memberikan batasan istithâ’ah  (kemampuan) sebagai dasar taklif untuk merealisasikan ibadah yang memuat romantisme historisitas Nabi Ibrahim ini. Tak ada ceritanya orang miskin tiba-tiba naik haji, kecuali karena mendapatkan undian atau uluran tangan seorang dermawan, misalnya. Maka dalam konteks ini, haji tak hanya mengandung unsur ritual, tapi juga mematok harga sosial.

Sebagian kecil masayarakat Madura memiliki tardisi yang menggelitik. Tanpa aturan tertulis, mereka seolah sepakat bahwa siapa pun yang sudah menunaikan ibadah haji harus dilekati dengan atribut kehajiannya. Mulai dari kopiah puith yang dipakai sampai paggilan kebesarannya. Mereka akan sedikit "tersinggung" jika tidak dipanggil dengan sebutan Pak haji atau Bu haji. Karena haji itu mahal, kata mereka berargumen. haji butuh biaya yang besar. Jadi tidak heran bila kemudian poin kelima rukun Islam ini menjadi impian panjang banyak orang. Tak jarang kita mendengar seseorang memiliki cita-cita untuk memberangkatkan kedua orang tuanya ke tanah suci, seperti yang digambarkan dalam film Emak Ingin Naik Haji.

Dari Ibadah Formal hingga Gengsi Sosial
Sedikit deskrepsi di atas, sekali lagi, menunjukkan bahwa ibadah haji memiliki bergening position dan bahkan berada di atas standar kualifikasi perspektif masyarakat tentang strata sosial. Haji adalah citra sekaligus simbol. Semakin sering ia dicitrakan, maka simbol itu semakin kokoh. Itulah kemudian kenapa ada justifiksi bahwa umat Islam Indonesia lebih greget mengerjakan ibadah haji ketimbang berzakat. Padahal, secara hierarkis, perilaku berzakat seharusnya lebih diutamakan ketimbang berhaji, karena ia lebih bernuansa horizontal dan berkaitan langsung dengan kebutuhan masayarakat, sementara haji lebih menitikberatkan pada dimensi vertikal antara sang pelaku dengan Sang Khaliq.

Asumsi di atas tidak sepenuhnya salah. Lihatlah, hampir setiap tahun calon jamaah haji selalu antri, sementara di sisi lain, kemiskinan demikian mengiris hati. Kita juga dapat membayangkan sebagian di antara kita yang memiliki agenda haji tiap tahun. Haji dilakukan berkali-kali. Dan parahnya lagi, biaya yang digunakan adalah hasil korupsi. Na'udzubillah! Tujuannya tentu saja untuk kepentingan diri sendiri. Tak pernah ada ceritanya bahwa haji adalah untuk kepentingan masyarakat, misalnya agar masyarakat makmur sentosa aman sejahtera. 

Tapi salahkah mereka yang melakukan haji berkali-kali? Bukankah biaya yang mereka gunakan adalah hartanya sendiri, bukan hasil korupsi, misalnya? Tentu saja tak ada yang salah. Tapi dilihat dari kaca mata prioritas, ibadah zakat lebih utama didahulukan, karena ia berdimensi sosial. Logika ini klop dengan sabda Rasulullah saw l<â yu’minu ahadukum hattâ yuhibba li akhihi mâ yuhibbu linafsihî, 
bahwa tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia cinta kepada dirinya sendiri.

Dalam kaidah fiqhiyyah juga dikatakan "al-muta’addy afdhalu min al-qâshir", bahwa ibadah yang manfaatnya dirasakan orang lain itu lebih utama ketimbang ibadah yang manfaatnya hanya dirasakan sendiri. Dan zakat adalah model ibadah paling efektif dan manfaatnya menyentuh langsung pada relung kebutuhan orang lain.

Begitulah. Kesalehan sosial (spiritual centrifugal) idealnya harus lebih didahulukan ketimbang kesalehan individual (spiritual centripetal). Sudah bukan waktunya kita terjebak pada simbolisasi ritus-ritus keagamaan tanpa mengindahkan substansi dan tujuannya. Sudah bukan waktunya lagi kita pamer gengsi sosial. Bukankah Nabi, dalam sejarahnya, hanya melakukan ibadah haji sekali saja, dan selebihnya hanyalah umrah semata-mata?

Haji berkali-kali, bagimanakah menurut anda?

10 komentar:
Write komentar
  1. kalo menurut saya kebangetan orang seperti itu. Setahu saya dalam Islam memeng diwajibkan berhaji, namun 'hanya' sekali saja seumur hidup. Tidak harus berkali2.

    Namun seandainya mereka tetap melakukan hal tersebut, setidaknya ada 2 kemungkinan:
    ● Mereka ingin mendpatkan keutamaan saat dekat dengan Baitullah. Bukannya sholat di Masjidil Haram nilainya sama dengan 120.000 kali sholat diluar Masjidil Haram?
    ● mereka memang (maaf) gila pujian/riya' sehingga sekali disanjung/dipuji/dielu2kan orang lain, akhirnya ketagihan & pengennya terus dielu2kan.
    Nah, inilah jadinya, timbullah fenomena 'naik haji berkali-kali'

    Itu cuma opini saya aja sob.. Hehe
    Salam kenal :)

    BalasHapus
  2. Menarik juga opinimu, sobat.

    Adakalanya mereka para juragan haji memang ingin pujian, atau mungkin ingin mendapatkan pahala yang berlipat ganda, saya sepakat dg kemungkinan itu. Tapi penekanannya kan pada kesalehan sosial.

    Untuk kasus pelipatan pahala ini saya masih belum seratus persen ngnggeh, karena ada banyak perbedaan ulama tentang hal ini.

    Salam kenal kembali...

    BalasHapus
  3. salam sahabat
    salam kenaln sekalian izin follow kawn

    BalasHapus
  4. Imtikhan - Salam kenal juga, sobat. Semoga menjadi awal yang baik. Amin,...

    BalasHapus
  5. Subhanalloh, sungguh beruntung orang yang dikarunia rejeki lebih oleh Alloh sehingga sampai mampu naik haji sampai berkali-kali. Dan saya hanya bisa mengucap alhamdulillah, meski saya belum mampu berhaji tapi sudah mampu menunaikan Zakat Mal, yang awalnya terasa berat tapi akhirnya saya bisa ikhlas menjalankannya untuk membersihkan harta saya.

    Kalau tentang berhaji sebaiknya, ya dilakukan sekali saja, Mas. Kecuali, benar kata Anda sudah tak ada lagi orang miskin yang perlu dibantu, sudah tidak ada lagi tempat buat menshodaqohkan kelebihan harta kita jadi intinya daripada uang kita dipakai buat hal-hal duniawi yang kurang berguna, ya lebih baik untuk beribadah, termasuk salah satunya untuk naik haji lagi.

    Tetapi faktanya, di negara kita ini masih banyak orang miskin yang perlu dibantu, anak putus sekolah yang perlu dibantu biayanya, pembangunan sekolah, masjid dan pondok pesantren mangkrak yang masih butuh biaya. Jadi sebetulnya kalau benar-benar kelebihan uang masih banyak cara lain untuk mencari pahala dari Alloh daripada berhaji berkali-kali.

    Ini hanya pendapat pribadi saya saja, Mas. Mohon Anda koreksi jika ada yang salah. Terima kasih.

    BalasHapus
  6. menurut saya memang pahala shalat di Masjidil Haram dan Nabawi memang sangat besar, tetapi kalau sudah lebih dari dua kali mungkin lebih baik memberi kesempatan kepada orang lain untuk naik haji uang kita buat bangun mesjid aja , menjadi amal jariyah, mungkin jauh lebih tinggi manfaatnya

    BalasHapus
  7. Suatu hal yang harus disyukuri ketika bisa ke Tanah Suci.

    BalasHapus
  8. kunjungan perdana, izin follow yaaa, ditunggu follow backnya :)

    BalasHapus
  9. iya juga ya..
    ibadah zakat memang yang utama
    mungkin karena pengalaman spritual yang luar biasa
    sehingga banyak orang yang ingin naik haji sampai berkali-kali

    BalasHapus

Makasih Komennya ya....

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - https://t.co/quGl87I2PZ
Join Our Newsletter