Ads

Ads

Minggu, 26 Oktober 2014

Dunia Fesbuker, Seberpa Pentingkah?

Seberapa berhargakah dunia pesbukmu, hingga baru bangun tidur pun, sebelum kau sikat gigi, respon alam bawah sadarmu mengharuskanmu terkoneksi dengannya?

Satu persatu, kau lalu mencerna status-status sahabatmu. Sambil tertawa, kau lalu mengomentarinya, entah itu serius atau malah guuonan belaka. Lalu, karena bosan dengan display language pesbuknya yang dipakai orang kapir, temanmu yang lagi menggandrungi matakuliah linguistik menyarankan Mark Zuckerberg agar memasukkan bahasa Jawa dan Madura sebagai alternatif pilihan bahasanya. Sungguh, itu ide tergila sepanjang masa dan tiada duanya.

Di lain waktu, kau bertemu dengan karakter cinta sahabatmu yang ganjil tapi selalu membuatmu terharu. Melalui status-statusnya, ia berusaha mengabadikan kesetiaan cintanya dunia-akhirat, melampaui batas ruang-waktu, selamanya, atau mungkin lebih dari selamanya. Mengirimi istrinya kado puisi terindah yang pernah tercipta di dunia, padahal istrinya sudah bahagia di "alam sana". Bukankah itu bukti komitmen cintanya yang sungguh teramat sangat luar biasa? Sumpah, kisah Layla-Majnun tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kisah asmaranya. Orang lain boleh menyebutnya sakit jiwa, tapi ia sangat bahagia. Terlalu bahagia.

Beda dengan karibmu yang pandai memelihara kenangan-kenangan, sahabatmu yang lain sangat gemar pada wartawan. Mungkin ia merasa dirinya eksis jika diliput oleh media. Tapi, karena media tak jadi memuatnya, lalu ia upload foto hasil wawancaranya di pesbuk saja. Sungguh, itu strategi jitu pencitraan yang tidak pernah terpikirkan oleh pakar komunikasi media sekalipun.

Dan, setelah bertahun-tahun mengikuti media sosial yang tak pernah sedetikpun istirahat ini, kau tak akan terkejut bin heran jika para pakar bahasa disibukkan oleh ulah manusia-manusia alay yang memodifikasi kata semangat menjadi "cumungut", banget menjadi "bingit", siapa menjadi "capa", dan seterusnya, dan sebagainya, dan sengawurnya. "Yah, tapi itu kan salah satu bentuk dialektika", argumenmu suatu ketika. Dengan dalih program Pemeliharaan Bahasa, pemerintah pasti ikhlas menggelontorkan dana demi keamanan dan kesejahteraan bersama.

Itu belum lagi program Revolusi Mental bagi mereka yang dikit-dikit otw, lagi di mall ini, lagi nongkrong di cafe itu, lagi tidur di hotel anu. Kau pasti tertawa mengingatnya. Narsis bingit, ya? Emang siapa yg tanya? Haha. Untung juga para Da`i masih punya rasa malu untuk tidak vulgar-vulgaran mengiklankan dirinya di televisi atau sosmed. Jika tidak, maka niscaya mereka akan berkata: "Undanglah saya di acara bla bla bla...". Kelak, jika ada seorang Kiai yang berani beriklan secara revolusioner seperti itu, sumpah, saya akan mengundangmu dan seluruh rakyat Indonesia untuk tasyakkuran halal bihalal bersama.

Hemmmmm. Kau sudah mulai bosan dengan ocehanku, bukan? Singkat cerita, suatu hari, pada bangun tidurmu yang kesekian, ada yang menggelisahkan batinmu tapi bukan lantaran kekasihmu yang pergi menjauhimu diam-diam atau karena jatuh tempo tagihan bulanan. Terasa ada yang hilang, dan ini sangat transenden dan tak terlukiskan. "Jejaring sosial mampu menyuguhimu ilusi yang menghanyutkan," bisikmu pada pagi dengan kesiur angin yang tenang, "Narasinya sarat dengan trend-trend yang berdesakan, di mana penghuninya bangga dengan tabiat-tabiat palsu yang membingungkan. Inginnya meneguhkan eksistensi, tapi yang didapat hanyalah delusi. Kasihan sekali".

Tanpa sadar, kau meraba perutmu yang keroncongan. Itu masih pagi-pagi amat sebenarnya, tapi kau dikagetkan sebuah suara: "Hoiiiii, tangio. Awakmu ono kuliah jam piro?"

Sembari mengucek matamu yang setengah terpejam, kau mengigau tanpa sedikit pun beban dosa: "Luwe, bos. Pacarku wes tekko opo ora?"

Kos Pojok Romantis,
Minggu, 26 Oktober 2014
(Di luar, aroma Batagor Tiara Bandung benar-benar mengusik indra penciuman. Itu sungguh menciptakan kegalauan)
Suk

Selasa, 30 September 2014

Setelah Lebih 9 Tahun: Reuni Perdana Alumni MA Bata-Bata 2005

Saya menulis catatan ini tepat pada saat rembulan jelang purnama. Bagaimana rasanya jika perjumpaan setelah lebih dari 9 tahun membuat dadamu berdentum dg letupan rasa haru dan bangga?

Terbangun tengah malam, saya lalu berpikir untuk mengabadikan momentum yg jarang saya alami, tepat pada dini hari menjelang reuni perdana ini. Kami berpisah satu sama lain setelah lulus dari pondok pasca tugas pengabdian di tempat masing-masing. Pertemuan ini bagi kami, paling tidak menurut teori saya pribadi, adalah sesuatu yang sakral sekali. Satu perjumpaan primordial, pertemuan agung, di mana Tuhan akan mencahayai kemesraan kami dengan keberkahan yang abadi dan sejati.

Saya bermalam di rumah seorang teman bernama Syafi'uddin, yang sejak dari pondok dulu sampai sekarang sering dipanggil Mat Gerra karena cara dia berjalan mirip seperti tentara. Lucu sekali tatkala mengingatnya. Ditemani Abdul Aziz si jebolan Al Azhar University Mesir yg juga Hafidh al Quran, Syafi'i Bang Jack si aktivis ulung dan politisi partai Hanura, Ridwan Batuampar, juga Mahrus Ali si pendidik ini, saya merasa bahagia sekali karena sejak ide tentang reuni berseliweran di benak kami beberapa tahun yg lalu, sebentar lagi bakal dihelat di rumah saudara Salamet Pangerreman, tak jauh dari tempat saya menginap ini.

"Teman-teman yg dari luar kota atau mereka yg mau hadir duluan sehari sebelum acara, bisa bermalam di rumah saya atau Mat Gerra. Tapi mungkin lebih baik di Mat Gerra saja, soalnya kalau di rumah pasti ramai dan kurang leluasa," kata Salamet si Tuan Rumah acara beberapa hari sebelumnya. Ia kerap menghubungi saya via hp, menanyakan kondisi teman-teman seangkatan untuk kesiapan reuni perdana. Ia memang tuan rumah yg penuh tanggung jawab dan bersahaja, di mana spontanitas kecerdasan humoriknya selalu mengundang tawa. Dan saya paham makna diksi "kurang leluasa" dari kata-kata, atau lebih tepatnya intruksinya.

Pagi hari, 10 Agustus 2014
Acara dimulai oleh suara MC yg menggelegar. Menurutnya, perjumpaan kali adalah kumpulan dari beberpa rentetan, yakni walimatul hamli, rutinitas bulanan IKABA, sekaligus Reuni Perdana Alumni MA 2005.

Walimatul hamli, kita tahu, selalu diikhtiari satu konsep mulia tentang ilmu parenting, di mana keterlibatan orang tua dalam mendidik calon anaknya dimulai bahkan sebelum si anak lahir ke dunia. Pancaran doa-doa yang dilangitkan oleh para tamu undangan, kebahagian yang brsinar di wajah keluarga, menjadi energi positif yg membekali si jabang bayi dalam kandungan. Itu tradisi dan kearifan lokal masyarakat madura dan Jawa pada umumnya, yang sudah diestafetkan jauh sebelum ilmu kedokteran dan psikologi modern mengurai keterhubungan aktivitas dan sugesti-sugesti seorang ibu terhadap perkembangan calon anaknya.

Berbeda dengan acara walimatul hamli yang diisi dengan lantunan doa-doa, pembacaan surah Yaasin dan Shalawat bersama, agenda rutinitas IKABA barangkali merupakan salah satu ijtihad kolektif yg dihelat untuk menyatukan persepsi bahwa silaturrahim dan kondisi real objektif di tengah-tengah masyarakat selalu dinamis dan harus terus diupayakan semaksimal mungkin pemecahan dan terobosan solutifnya. Di sesi ini, peserta undangan ber-bahtsul masail, bertanya jawab soal problematika yang terjadi di masyarakat, mulai dari masalah ubudiyah seperti shalat dan ibadah mahdoh lainnya sampai pada persoalan mu'amalah seprti persoalan pilpres dan TKI-TKW. Sebelumnya, Raden Isbat Abd. Qadir sebagai sesepuh mendaraskan kitab Risalatul Mu'awanah, dan para tamu undangan menyimak dan memaknai.

Saya jadi teringat masa-masa di pondok dulu, saat ekspektasi akan ilmu begitu meluap-luap, on betul, meski saat ndaras kitab imaji saya nakal sekali: ngaji kitab tapi sesekali ngarang puisi!
Yang menarik dari bahtsul masail ini adalah satu pertanyaan yg dilontarkan oleh Ustad Syahidi. Ia mengaku seringkali was-was saat membaca Al Quran, di mana firman Allah menurutnya acap teragukan. R.K.H. Moh. Tohir Zain, salah satu Dewan Pengasuh PP. Mambaul Ulum Bata-Bata, menjawab pertanyaan itu: bahwa keraguan adalah manusiawi. "Dan itu sangat menguntungkan karena keraguan adalah bukti adanya iman," katanya. Hanya saja, meragukan keabsahan Al Quran sangat membahayakan, lanjutnya. Menurut R. Isbat, kasus kewaswasan mengingatkannya bahwa sesungguhnya ada istilah waswas sejati. "Kalau kau waswas dalam hal ibadah, tapi tidak waswas soal uang, maka waswasmu adalah ilusi," jelasnya.

Soal waswas ini mengingatkan saya pada apa yang pernah dialami Hujjatul Islam Al Ghazali, ketika di dadanya terjadi petentangan antara filsafat dan agama. Katanya, "kita tidak akan pernah sampai pada kebenaran dan keyakinan yg purna, sebelum kita pernah benar-benar meragukannya". Begitu kira-kira.

Acara demi acara terus berlangsung, sampai tiba pada penghujungnya. Di tutup dengan doa, para tamu undangan berpamitan, kecuali kami para alumni yang seangkatan.

Kami lalu melanjutkan perbincangan non formal, lepas kangen, saling tukar kabar "anakmu berapa, rumahmu di mana". Tentang poin ini, saya tertohok dengan telak oleh kalimat yang didengungkan oleh RKH. Tohir Zain, persis saat beliau beranjak pulang dan kami 'acabis':"Mana anakmu, Ha'? Istrimu di mana?"

Tanya yang menagih jawab. Mungkin juga sebentuk afirmasi yg membutuhkan verifikasi. Bagi saya, kedua-duanya sama-sama negatif, jawabnya masih 'belum'. Dan saya menjawabnya dengan bahasa diplomasi, meski di hati benar-benar mengamini: "InsyaAllah sebentar lagi".

Beliau melanjutkan, "reuni itu tidak sempurna tanpa mengikutsertakan seorang istri". Kalimat yang terngiang terus di kepala bahkan sampai saat menulis catatan ini. Dan kau pasti tahu, perbincangan para santri yang baru menikah dijamin tidak luput dari konten kitab Qurratul 'Uyun ini. Saya dan beberapa teman yang belum menikah pasti kalah telak jika pembahasannya menyangkut soal 'kaidah suami-istri ini'.

Tiba-tiba saya teringat petuah yang diyakinkan guru saya, "Kelak ketika usia pernikahanmu sudah melewati setahun dua tahun, kau akan sadar bahwa kecantikan fisik istrimu tidak berarti banyak bagi kehidupanmu. Saat itu, seks sudah turun levelnya ke nomor yang kesekian. Yang paling indah dan menenteramkan hatimu adalah kesetiaan istrimu, perhatiannya, cara berpikirnya, dan yang paling penting adalah budi pekerti dan agamanya. Kau akan tahu dan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya".

Itulah beberapa poin penting yang saya dapat dari reuni perdana alumni MA Mambaul Ulum Bata-Bata angkatan 2005 ini. Melingkar sambil ditemani kacang dan hidangan renyah lainnya, kebahagiaan benar-benar memancar dengan hati berbunga-bunga. Kondisi bising sound sistem terus menggema, tapi itu tidak mengganggu perbincangan kami.

Kenangan-kenangan saat masih di pondok tiba-tiba menjadi sesuatu yang renyah untuk diprasastikan. Kenangan adalah yang bersemayam dalam ingatan. Pahit getirnya tetap terasa indah sebagai bumbu kehidupan.

Madura - Surabaya, 10 - 12 Agustus 2014

Senin, 24 Februari 2014

Terapi Diri dengan Blogging Sehat

Saya sering mengungkapkan secara gamblang, entah itu di laman fesbuk dan di berbagai forum kajian, bahwa ngeblog itu sesungguhnya adalah belajar menyuembuhkan diri, terapi diri. Terapi yang saya maksud di sini adalah proses untuk terus-menerus menemukan kesejatian diri, kedirian diri. Mengapa harus dengan blogging? Alur berpikirnya begini.

Kita mungkin bakal belepotan untuk mengikuti arus perkembangan teknologi yang tak kunjung berhenti. Kelahiran generasi hasil pencangkokan teknologi terus digalakkan meski kita belum paham semua itu dibuat untuk apa, untuk kepentingan siapa, seberapa besar manfaat dan merusaknya, dan yang bisa kita lakukan adalah terus bertanya. Bertanya mengandaikan satu prosedur ilmu, dan bangunan ilmu bakal menguat dengan terus bertanya. Ada dialektika di sana.

Saya jadi teringat pernyataan menarik Manuel Castell dalam The Rise of the Network Society, bahwa "masyarakat kita semakin terstruktur seputar oposisi dwi-kutub, yaitu kutub jaringan dan kutub diri, the Net and the self". Statemen itu bukan isapan jempol belaka, melainkan sudah menjadi fakta objektif yang menggerogoti masyarakat di abad informasi ini. Kita kehilangan titik diri di tengah-tengah percepatan yang berlangsung terus, di mana diam sama dengan mati. Itulah ancaman paling mengerikan dari makhluk bernama kapitalisme dengan globalisasi sebagai kendaraan utamanya.

Maka, jika kita mau sedikit mengurai lebih dalam tentang falsafah blogging, akan ada korelasi linier antara belajar menemukan diri di jagat informasi dengan budaya nulis di blog. Ritual menulis selalu mempersyaratkan intensitas baca yang solid agar uraian kata, kalimat dan paragraf yang kita anggit mampu tercerna secara sistematis. Artinya, menulis itu sesungguhnya jalan paling mudah untuk mengerti siapa diri dan identitas kita sesungguhnya. Tapi, sebelum menulis, membaca menjadi prasyarat mutlak yang tak bisa ditawa-tawar. Di sinilah teori saya bahwa ngeblog adalah terapi menemukan pijakannya. Sebab, "dunia dan hidup kita", kata Castell dalam The Power of Identity-nya," sedang dibentuk oleh trend-trend yang saling bergesekan, yaitu globalisasi dan identitas".  

Di tengah gesekan itu, blogging menawarkan satu komintmen untuk menempa diri dengan budaya baca dan nulis. Dan, itu satu-satunya cara terbaik untuk mengimbangi kultur permissif yang belakangan semakin santer terjadi di dunia netter, terutama di jejaring sosial yang disalah gunakan sebagai media caci-maki, saling serang argumen tanpa kematangan emosional. Di dunia maya yang tanpa batas, siapapun boleh menulis, mempublikasikan, mengeluarkan apa saja, bahkan aurat yang paling rahasia sekalipun. Bukan hanya aib diri sendiri, bahkan aib orang lain sah diumbar dan tanpa pertanggung jawaban apa-apa.

Itulah kerangka dasar kenapa saya mengusulkan blogging sehat sebagai counter hegemony terhadap gelombang negatif yang setiap detik bisa mengintai dan menggerogoti para pemakai internet. Mari kita budayakan blogging sehat.




Rabu, 29 Januari 2014

Neo Mahasiswa dan Generasi Android

Jika hari ini kita melakukan pencarian di Google dengan keyword “mahasiswa kupu-kupu”, maka ada sekitar 1.100.000 laman yang muncul dalam hitungan 0.39 detik. Angka itu bisa fluktuatif, naik-turun, sesuai dengan selera para penulis, pemerhati, aktivis, akademisi, atau mungkin juga hasil utak-atik-gathuk blogger iseng yang tergila-gila pada kategori. Ada apa gerangan dengan mahasiswa kupu-kupu?

Sebuah tipologi lahir dari hasrat untuk mengelompokkan berbagai karakter dan dimensi manusia menjadi sesuatu yang seolah-olah bisa diukur, digolong-golongkan, dimirip-miripkan, dipas-paskan. Muncullah bermacam teori untuk mengkaji dinamika kedinamisan manusia dari berbagai perspektif. Ada yang berangkat dari kerangka fisikal yang dikenal dengan fisiognomi, ada yang berpijak dari potret bagaimana seseorang tidur, cara ia berjalan, cara ia makan dan lain sebagainya. Tapi validkah ukuran-ukuran itu? Bukan itu poinnya.

Awalnya saya menduga mahasiswa kupu-kupu sebagai tema yang hendak diangkat di buletin ini adalah semacam analogi untuk serangga (insecta) bersayap dua (diptera) yang memiliki warna indah dan mengalami metamorfosa selama hidupnya. Atau ia seperti simbol prototype negatif yang selalu bertendensi dengan malam, berkonotasi dengan dunia kelam, jadilah ia seperti judul sebuah lagu: Kupu-kupu Malam. Ternyata bukan kedua-duanya, dan saya pun kecele karenanya.

Tipe mahasiswa Kupu-kupu ternyata adalah akronim dari “kuliah pulang-kuliah pulang”, yang secara diametris berbeda dengan model Kunang-kunang, yakni “kuliah nangkring-kuliah nangkring” dan Kura-kura alias “kuliah rapat-kuliah rapat”. Bahasa kerennya, ketiga tipologi itu mungkin bisa disederhanakan dengan istilah mahasiswa anak mama, mahasiswa hedonis-glaumor, dan mahasiswa aktivis-organisatoris.

Bagi mahasiswa baru yang sebelumnya identik dengan baju abu-abu, melihat realitas yang terjadi di bangku kuliah mungkin mengalami hentakan yang kronis  di benaknya. Di film-film teenlit-stensilan atau di FTV Siang di SCTV, gambaran mahasiswa biasanya disuguhkan dengan acara kongkow-kongkow di kantin, ngeceng di cafe-cafe dan mall-mall, atau nge-date entah kemana. Faktanya, dunia mahasiswa adalah realitas yang sarat anomali dan bisa ditinjau dari berbagai segi. Maka banyak kita temui mahasiswa yang merasa “endasku ngelu” saat diajak kajian, tapi langsung antusias menyala-nyala saat diajak nongkrong di pinggir jalan sambil menghitung jumlah kendaraan yang lalu lalang.

Di lain tempat, kita jumpai mahasiswa yang kerjanya cuma sibuk berkutat dengan tumpukan paper dan jibunan buku di perpustakaan, di lain waktu kita terheran-heran dengan mahasiswa perfeksionis yang bisanya hanya sibuk ngurus perbaikan nilai, karena IPK-nya tak sesuai harapan, dan sesekali kita melongo, takjub sekaligus kebingungan saat melihat aksi demo para aktivis mahasiswa yang konon memperjuangkan idealismenya, tapi tak paham sesungguhnya yang terjadi apa dan untuk kepentingan siapa. 

Maka, di tahun 2008, ketika menjadi anggota Steering Committee (SC) pada acara Mapaba PMII Tarbiyah Surabaya Selatan, saya mengajukan satu grand tema: “Re-Eksistensi Mahasiswa: Mendobrak Antagonisme Gerakan dan Diabolisme Pemikiran”, dengan alasan yang sesadar-sadarnya, bahwa hanya mengandalkan gerakan dan pemikiran semata-mata saja tak cukup. Ada satu nilai yang menancap kuat, yang seharusnya menjadi titik ordinat seluruh aktivitas kemahasiswaan dan kemanusiaan kita: reidentifikasi, relokasi, reposisi, reorientasi, reformulasi, dan refungsionalisasi kekhalifahan kita di dunia. Jika tidak, maka gerakan dan pemikiran hanya menjadi mitos yang usang, ideologi yang kadaluarsa, dan berputar-putar di ruangan yang sama: tujuannya memberantas korupsi, tapi disiasati dengan jalan manipulasi. Logikanya adalah kesejahteraan bersama, tapi akhirnya hanya untuk kepentingan golongannya saja. Kita disuguhi gambaran kebenaran, kebaikan dan keindahan, tetapi sesugguhnya hanya dicekoki ilusi kebenaran, kebaikan dan keindahan.

Barangkali semua itu adalah ekses negatif dari revolusi teknologi informasi yang mencengkeram kuat sebagai kendaraan globalisasi, dengan media sebagai kendaraan utamanya. Vibrasi virtual yang dihasilkannya sudah merambah jauh menelusup ke dalam relung terdalam kesadaran kita, membentuk jejaring yang silang-sengkarut, tak jelas ujung-pangkalnya, benar-salahnya, baik-buruknya, asli-palsunya, dan melebur menjadi satu identitas yang rumit, yakni efek langsung dari apa yang diistilahkan Manuel Castell sebagai oposisi dwi-kutub, yakni kutub jaringan dan kutub diri, the Net and the Self.

Di tengah kekaburan identitas yang kian absurd, di mana trend-trend saling bergesekan dalam tempo yang secepat-cepatnya, bahkan melampaui kodrat perubahan itu sendiri, kebenaran acap kali berwajah kepalsuan. Kebusukan yang menjijikkan bisa tampak sebagai keindahan. Baudrillard menyebutnya sebagai dunia simulakra, di mana kita mengawang-ngawang kebingungan di dalamnya. Dalam konteks di mana negara kita sedang terjerat oleh ilusi-ilusinya sendiri; hidup di neraka tapi sedang merasa di surga, melebur dalam kubangan kenistaan tapi masih merasa berjaya, di manakah sejatinya posisi mahasiswa, bagaimanakah ia meradikalisasi kediriannya, serta bagaimanakah ia melakukan refungsionalisasi atas kemahasiswaannya?

Jika memakai analogi di atas, yakni Kupu-kupu, Kunang-kunang dan Kura-kura, jelas masing-masing memiliki distingsinya sendiri, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Kupu-kupu mampu menyejukkan mata dengan kemilau warnanya, cenderung menghindari “anarkisme”, tapi ia termasuk serangga yang rapuh dan tak tahan banting. Kunang-kunang juga memiliki kilauan cahaya yang magis, tapi ia selalu muncul dari dalam gelap malam. Dan Kura-kura, kita tahu, adalah reptil yang mampu hidup di dua alam, memiliki pelindung atau carapaks yang kokoh yang mampu melindunginya dari berbagai ancaman. Di antara ketiganya, yang manakah yang paling baik dan ideal?

Saya mengusulkan apa yang saya sebut sebagai Neo Mahasiswa yang memiliki keluwesan dan kelenturan seperti Android. Maka, saya juga menyebut tipe ini sebagai Mahasiswa Android. Ingat, generasi Android, bukan pemakai Android, apalagi menggunakannya hanya untuk keren-kerenan, tajir-tajiran, sok-sok ingin dicap modern padahal gapteknya luar biasa nemmen.

Kita tahu, Android yang resmi dirilis tahun 2007 ini adalah operating system yang open sources, multiplatform, yang menyediakan ruang bagi para developer untuk berkreasi sekreatif-kreatifnya, seproduktif-produktifnya. Kerangka sistemnya memungkinkan perangkat lunak untuk dimodifikasi secara bebas dan didistribusikan oleh para pembuat perangkat, operator nirkabel, dan pengembang aplikasi. Ya. Dari dan karena dirinyalah lahir aneka gadget, fitur-fitur, dan aplikasi-aplikasi yang multifungsi.

Itulah mahasiswa Andorid. Mahasiswa yang tidak saja mampu merangkum seluruh kategori-kategori dan kreteria-kreteria temporal yang dilekatkan pada dirinya, tetapi bahkan mampu mengatasinya, melampauinya, dan yang paling penting, mampu mengontrol fungsi kemahasiswaannya dengan tepat. Dialah mahasiswa yang emoh dengan sistem kreditan, maka ia selalu kula’an ilmu sebanyak-banyaknya, di manapun ia berpijak: di bangku-bangku kuliah, di ruang-ruang rapat, di jalan-jalan saat menjadi demonstran, bahkan di lapangan futsal.

Sesunggguhnya kita bisa menciptakan istilah-istilah, idiom-idiom, platform-platform baru tanpa harus berusaha mengunggul-unggulkan diri dan membangga-banggakannya, apalagi sampai mengkerdilkan yang lain. Mahasiswa Android hanyalah analogi saya saja, dan Anda bisa menyebutnya dengan istilah lainnya, selama substansinya sama.

Pada akhirnya, jika apa yang saya usulkan mampu terejawantahkan, maka identitas kesejatian mahasiswa bisa terkuak dengan purna. Sisi ke-maha-an dirinya akan siap menerima cahaya dari mana saja. Lalu mampu mentransfer energi positifnya untuk kesejahteraan bersama. Barangkali bukan suatu kebetulan jika lembaga pendidikan tempat mahasiswa menempa dirinya disebut universitas, al-jami’ah, karena dimensi kelimuan, kedirian, dan kesadarannya bersifat universal, tidak terjebak pada fakultas-fakultas, apalagi jurusan semata. Semoga.    

24 Oktober 2013

(Terpblikasikan di Buletin Celurit, PMII Surabaya Selatan)



Kamis, 24 Oktober 2013

Berkah Setumpuk Jenggot

Engkau pasti sulit menemukan seseorang semacam dia. Da'i paling nyentrik se-Indonesia. Ia pernah jadi khotib sidang Jum'at tanpa duduk di antara kedua sesi khotbahnya. Jika engkau suka mengelompokkan karakter seseorang lewat fisiognomi, kesulitan itu akan tambah membuatmu kebingungan: wajahnya bulat penuh dan "berwibawa", tubuhnya tegap seperti Mahapatih Gajah Mada. Tapi jika keluwesan emosinya melanda, ia bisa sentimentil melebihi gadis perawan saja. Hatinya benar-benar peka. Dan sekarang, berkah keluwesannya, ia benar-benar menjadi Mahapatih bagi komunitasnya. 

Dia sangat super serius dengan profesinya, tapi lebih sangat amat super-duper serius lagi tentang puisi-puisinya. Tiap malam ia menyelipkan sajak-sajak doa untuk istrinya. Kata dia, itu isyarat kekekalan cinta. Maka, setelah lama menduda, ia sangat selektif memilih perempuan untuk jadi pendamping sisa-sisa hidupnya.

Dari saking selektifnya, ia bahkan menyeleksi status-status dan tag-tag dari siapa saja yang boleh "nongkrong" di beranda fesbuknya. Menyortir kiriman-kiriman foto yang berjubelan dari penggemar-penggemarnya, entah penggemar beneran, pengggemar guyonan, mungkin juga penggemar suaranya, atau hanya penggemar jenggotnya yang penuh karisma.  

Soal jenggot, engkau pasti menganggap statemennya sebagai lelucon. "Santai saja, ini bukan jenggot ideologi, tapi hanya sekedar aksesori," serunya sambil mengelus jenggotnya yang tak ada duanya di dunia. Dan, ia tak sedang mengarang cerita saat berkilah bahwa berkat jengggotlah alur hidupnya bisa berubah. Ia diterima menjadi penyiar di sebuah stasiun radio swasta milik para pengusung khilafah untuk menggusur Indonesia raya. "Jenggot ideologi" menjadi salah satu platform dan mode gerakan mereka.

Tak tanggung-tanggung. Ia dipercaya untuk mengasuh acara "Jelajah Al-Quran", padahal dulu kitab itu jarang disentuhnya, jarang dikajinya. Tapi rute hidup manusia tak bisa diterka. Apa yang ditekuninya dulu, ketika mengejar almarhumah istrinya, dengan cara mengiriminya bebait puisi, merekam suara cemprengnya dengan laptop bututnya, sekarang malah megantarkannya menjadi penyiar ternama. Gus Aab pangggilan udaranya. Engkau harus percaya itu bukan kebetulan belaka. Itu hasil jihad fi sabilillah namanya.  

Dibalik kekar tubuhnya yang kau kira seperti instruktur fitness, ia tetaplah lelaki romantis, mungkin sedikit melankoli, tapi sanggup mencintai istrinya sepenuh hati, sampai mati. Itu kenapa ia bisa akrab dengan bebaris puisi. Bahkan mampu mengucurkan air mata saat membaca kisah-kisah penuh haru yang mirip perjalanan hidupnya. 

Saya yakin istrinya sedang damai di sorga. Engkau pasti percaya. Dan tulisan ini tidak berpretensi apa-apa, hanya sekedar karangan bunga atas ketabahan hatinya. Lelaki yang saya ceritakan ini, engkau tahu, adalah sahabat sejati saya, yang dulu pernah tak menyapa saya berbulan-bulan lamanya, hanya lantaran kedunguan buta, kesempitan rongga dada, dan fanatisme tanpa makna, dalam memperjuangkan komunitas eks yang kebingungan menentukan plot rangkaian perjalanan ceritanya.  

Pada akhirnya, engkau harus yakin bahwa coretan saya ini adalah lembar pertama untuk membuka kembali cerita-cerita heroiknya saat mengejar cintanya, lalu menikahi perempuan yang dicintainya, lalu sederet riwayat keluarganya, lalu suka-dukanya, lalu tawa-tangisnya, dan lalu-lalu yang lainnya. Ia berjanji kepada saya untuk megabadikannya dalam catatan kenangan penuh cinta. 

Engkau, pembaca tulisan ini, adalah saksi nyata, betapa ocehan tak berharga ini adalah ikrar saya dalam membidani kelahiran ceritanya. Kita tunggu saja.


Jemur Wonosari, 19 Oktober 2013 

E-mail Newsletter

Sign up now to receive breaking news and to hear what's new with us.

Recent Articles

© 2014 Syahwat Virtual™. WP themonic converted by Bloggertheme9. Powered by Blogger.
TOP